Abillanya ( Opini )
Setiap kali Presiden Prabowo Subianto melontarkan pernyataan yang kontroversial, pola yang muncul hampir selalu sama: pernyataan tersebut menjadi berita utama, media ramai membahasnya, publik terbelah dalam berbagai respons, dan nama Prabowo kembali menjadi pusat perhatian.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar: Prabowo sedang blunder atau tidak ?
Pertanyaan yang lebih menarik adalah: bagaimana jika kontroversi itu justru menjadi bagian dari strategi komunikasi politik?
Hipotesis semacam ini patut dibaca dalam konteks politik modern. Seorang politisi tidak selalu membutuhkan pemberitaan positif untuk memenangkan perhatian publik. Dalam ekonomi perhatian, pemberitaan negatif sekalipun tetap memiliki nilai: nama disebut, pernyataan dikutip, potongan video beredar, dan perdebatan terus berlangsung.
Dengan kata lain, kontroversi bisa menjadi marketing politik gratis.
Prabowo bukan figur baru dalam dunia politik. Ia telah berkali-kali mengikuti kontestasi pemilihan presiden, memiliki pengalaman panjang sebagai tokoh militer dan kemudian menjadi pengusaha serta politisi. Karena itu, terlalu sederhana jika setiap pernyataan kontroversial langsung disimpulkan sebagai ketidaktahuan atau ketidakmampuan membaca situasi.
Namun, tentu saja, tidak berarti setiap ucapan kontroversial otomatis merupakan strategi yang dirancang dengan sempurna.
Di sinilah konsep pemetaan barisan menjadi menarik.
Satu pernyataan dari seorang presiden bisa memunculkan berbagai reaksi. Ada yang langsung membela, ada yang menyerang, ada yang memilih diam, ada yang mencoba menjelaskan, dan ada pula yang justru memanfaatkan kontroversi tersebut untuk menyerang lawan politik.
Bagi tim politik, seluruh reaksi itu dapat menjadi informasi. Siapa yang paling cepat membela ? Siapa yang paling keras menyerang ? Siapa yang tetap loyal ketika tekanan meningkat? Dan siapa yang tiba-tiba mengambil jarak? Dalam politik, respons publik bukan sekadar keributan. Ia juga bisa menjadi data sosial-politik.
Kontroversi sebagai penguasaan panggung
Strategi semacam ini bukan fenomena baru dalam politik global. Donald Trump, misalnya, membangun komunikasi politik yang sangat bergantung pada kontroversi, pernyataan provokatif, dan kemampuan mengubah dirinya menjadi pusat pemberitaan.
Trump memahami satu hukum sederhana dalam politik media: selama semua orang membicarakan Anda, Anda masih menguasai panggung.
Perbedaannya hanya pada medium.
Trump memiliki media sosial sebagai senjata utama. Prabowo lebih sering memanfaatkan podium, pidato, wawancara, dan pernyataan langsung.
Tetapi mekanismenya bisa terlihat serupa: sebuah pernyataan memancing kontroversi, kontroversi menghasilkan pemberitaan, pemberitaan menghasilkan perdebatan, dan perdebatan membuat figur tersebut tetap berada di pusat perhatian.
Tetapi ada risikony, Strategi kontroversi bukan tanpa bahaya.
Jika terlalu sering digunakan, publik bisa mengalami kelelahan. Pernyataan yang awalnya dianggap sebagai gaya komunikasi dapat berubah menjadi persepsi mengenai ketidakseriusan atau ketidakmampuan.
Lebih berbahaya lagi jika kontroversi justru menggeser isu utama yang ingin dikendalikan pemerintah.
Karena itu, keberhasilan strategi semacam ini sangat bergantung pada satu hal: apakah sang komunikator mampu mengendalikan narasi setelah kontroversi meledak?
Jika mampu, kontroversi dapat menjadi alat, Jika gagal, kontroversi berubah menjadi bumerang.
Maka, melihat setiap pernyataan kontroversial Prabowo semata-mata sebagai “kebodohan” juga terlalu sederhana. Tetapi menganggap seluruh kontroversi pasti disengaja juga sama simplistisnya.
Yang lebih masuk akal adalah melihatnya sebagai bagian dari politik panggung dan ekonomi perhatian, di mana setiap ucapan seorang pemimpin memiliki konsekuensi komunikasi yang jauh lebih besar dibanding ucapan politisi biasa.
Satu kalimat bisa menjadi headline, Satu headline bisa menjadi jutaan tayangan.
, Dan jutaan tayangan bisa membuat semua mata kembali tertuju kepada satu orang., Pada titik itu, pertanyaan politiknya bukan lagi “Kenapa Prabowo mengatakan itu?”
Melainkan:
“Siapa yang sebenarnya paling diuntungkan karena semua orang membicarakannya?”
Jika jawabannya kembali kepada Prabowo, maka mungkin yang terlihat seperti blunder belum tentu sepenuhnya merupakan kegagalan komunikasi.
Bisa jadi, sebagian dari kekacauan itu justru merupakan cara untuk menguasai panggung.
Bukan berarti Prabowo bodoh. Justru sebaliknya: politik modern menunjukkan bahwa seorang pemain yang memahami kekuatan perhatian publik dapat mengubah kontroversi menjadi instrumen politik.
Dan selama publik terus bereaksi, media terus membuat headline, sementara lawan terus menghabiskan energi untuk merespons, satu hal tetap terjadi:, panggung tetap milik orang yang paling banyak dibicarakan. (***)