Ditengah
gemerlap perayaan Hari Jadi Kabupaten Tegal yang memasuki usia empat abad lebih
seperempat abad, lengkap dengan panggung seremoni, hiburan, dan euforia yang
terus bergulir, ada baiknya sejenak kita menoleh ke lorong waktu yang kini
mulai sepi dari perhatian. Lorong itu membawa ingatan pada bencana tanah
bergerak yang pernah menghantam Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara.
Kala itu, kamera datang
berbondong-bondong. Pejabat silih berganti meninjau lokasi. Janji penanganan,
perhatian, dan kepedulian memenuhi ruang publik. Warga yang rumahnya retak,
tanahnya bergeser, dan hidupnya berubah mendadak menjadi pusat perhatian.
Baca Juga : https://abillanya.blogspot.com/2026/05/hari-kebangkitan-nasional-sekda-tegal.html
Namun seperti banyak tragedi lainnya,
waktu perlahan menggeser perhatian publik. Sorotan media memudar. Kunjungan
mulai jarang terdengar. Kabar tentang para korban pun perlahan tenggelam oleh
isu-isu baru yang datang silih berganti.
Kini pertanyaannya sederhana, tetapi
penting: bagaimana nasib mereka hari ini?
Warga yang tinggal di hunian sementara
bukan hanya membutuhkan bantuan sesaat. Mereka membutuhkan kepastian hidup.
Anak-anak tetap harus sekolah. Orang tua tetap mencari nafkah. Dan
keluarga-keluarga itu masih menyimpan harapan untuk kembali hidup layak tanpa
dihantui ketidakpastian relokasi maupun ancaman bencana susulan.
Hunian sementara sejatinya bukan
tempat tinggal untuk selamanya. Ia hanya jembatan darurat menuju kehidupan yang
lebih pasti. Namun sering kali di negeri ini, sesuatu yang sementara justru
berubah menjadi terlalu lama. Ketika publik berhenti membicarakan, justru di
situlah penderitaan sering berjalan diam-diam.
Momentum ulang tahun daerah semestinya
tidak hanya diukur dari meriahnya panggung hiburan atau panjangnya daftar
kegiatan seremonial. Usia daerah juga layak dimaknai dari sejauh mana
pemerintah tetap mengingat warganya yang berada di pinggir perhatian.
Baca Juga : https://abillanya.blogspot.com/2026/01/pemkab-tegal-gelar-rakor-forkopimda.html
Sebab pembangunan bukan hanya soal
lampu-lampu perayaan yang menyala terang, tetapi juga tentang memastikan tidak
ada warga yang tertinggal dalam kesunyian pascabencana.
Mungkin
hari ini panggung hiburan masih berdiri megah. Musik masih terdengar riuh.
Lampu-lampu masih menyala terang. Tetapi di sudut lain Kabupaten Tegal, ada
warga yang masih menunggu: menunggu kepastian, menunggu perhatian, dan mungkin
juga menunggu untuk kembali dianggap ada. (***)


Posting Komentar
0Komentar