Gemerlap HUT Kabupaten Tegal dan Sunyinya Nasib Korban Padasari - Abillanya

Abillanya

Tanpa tendensi, Obyektif, Independen

Breaking

Berita Terbaru
Memuat berita...

Home Top Ad

24 Mei 2026

Gemerlap HUT Kabupaten Tegal dan Sunyinya Nasib Korban Padasari

 


Abillanya ( Opini ) 

Ditengah gemerlap perayaan Hari Jadi Kabupaten Tegal yang memasuki usia empat abad lebih seperempat abad, lengkap dengan panggung seremoni, hiburan, dan euforia yang terus bergulir, ada baiknya sejenak kita menoleh ke lorong waktu yang kini mulai sepi dari perhatian. Lorong itu membawa ingatan pada bencana tanah bergerak yang pernah menghantam Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara.

Kala itu, kamera datang berbondong-bondong. Pejabat silih berganti meninjau lokasi. Janji penanganan, perhatian, dan kepedulian memenuhi ruang publik. Warga yang rumahnya retak, tanahnya bergeser, dan hidupnya berubah mendadak menjadi pusat perhatian. 

Baca Juga : https://abillanya.blogspot.com/2026/05/hari-kebangkitan-nasional-sekda-tegal.html

Namun seperti banyak tragedi lainnya, waktu perlahan menggeser perhatian publik. Sorotan media memudar. Kunjungan mulai jarang terdengar. Kabar tentang para korban pun perlahan tenggelam oleh isu-isu baru yang datang silih berganti.

Kini pertanyaannya sederhana, tetapi penting: bagaimana nasib mereka hari ini?

Warga yang tinggal di hunian sementara bukan hanya membutuhkan bantuan sesaat. Mereka membutuhkan kepastian hidup. Anak-anak tetap harus sekolah. Orang tua tetap mencari nafkah. Dan keluarga-keluarga itu masih menyimpan harapan untuk kembali hidup layak tanpa dihantui ketidakpastian relokasi maupun ancaman bencana susulan.

Hunian sementara sejatinya bukan tempat tinggal untuk selamanya. Ia hanya jembatan darurat menuju kehidupan yang lebih pasti. Namun sering kali di negeri ini, sesuatu yang sementara justru berubah menjadi terlalu lama. Ketika publik berhenti membicarakan, justru di situlah penderitaan sering berjalan diam-diam.

Momentum ulang tahun daerah semestinya tidak hanya diukur dari meriahnya panggung hiburan atau panjangnya daftar kegiatan seremonial. Usia daerah juga layak dimaknai dari sejauh mana pemerintah tetap mengingat warganya yang berada di pinggir perhatian. 

Baca Juga : https://abillanya.blogspot.com/2026/01/pemkab-tegal-gelar-rakor-forkopimda.html

Sebab pembangunan bukan hanya soal lampu-lampu perayaan yang menyala terang, tetapi juga tentang memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam kesunyian pascabencana.

Mungkin hari ini panggung hiburan masih berdiri megah. Musik masih terdengar riuh. Lampu-lampu masih menyala terang. Tetapi di sudut lain Kabupaten Tegal, ada warga yang masih menunggu: menunggu kepastian, menunggu perhatian, dan mungkin juga menunggu untuk kembali dianggap ada. (***) 

```html ```